Minggu, 07 Agustus 2011

CERPEN


MUSIK

Hujan mulai membasahi bumi, gemericik air terdengar berjatuhan diatas atap rumahku. Pukul 04.30 pagi dengan enggan aq beranjak bangun pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan kewajibanku.
“ hemnnzzz sebentar lagi pasti mama memanggilku”
tak lagi aku menguman sendiri, mama sudah bersuara dan berteriak menyuruhku bersiap-siap turun. Hari ini aku harus mengikuti latihan rutin sejak kepulanganku sebulan yang lalu dengan membawa kemenangan atas prestasiku dalam bidang musik dan aku harus mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba, dengan jarak yang cukup jauh dari tempat latihan aku harus bangun pagi-pagi agar aku bisa sampai tepat waktu.
aku tidak terlalu teropsesi dalam kegiatan ini, bisa dibilang aku melakukannya tidak sepenuh hati. Walaupun orang tuaku sangat bangga dengan semua yang aku punya. Aku terlahir dikeluarga kaya dengan semua fasilitas yang memadai, tapi aku selalu diajarkan dengan agama yang kuat, aku sekarang masih berumur 17 tahun bulan depan, aku mempunyai kakak yg kuliah diAmerika dalam bidang musik, bisa dibilang keluarga ku adalah keluarga musik. Ayahku terlahir sebagai pencipta lagu terkenal dan ibuku terlahir dari keluarga yang tidak lumayan baik tapi cukup baik semenjak menikah dengan ayahku. Lamunan ku tentang semua hal yang ada dalam keluargaku buyar ketika mendengar mama kembali memanggilku. Aku pun bergegas turun kebawah.

“ ferina natasya darma, kamu terlambat 2 menit”
“mama gitu aja dipermasalahkan, lagian kan kesini ke Bandung cuma 1jam kalau ngebut.”
“kamu itu kalau dibilangin orang tua nurut kenapa!, kamu tidak diperbolehkan bawa mobil sendiri nanti supir akan mengantar kamu, dengan keadaan cuaca yang hujan seperti ini kamu harus ada yang menemani,”
“ ya deh.” Sembari memakan makanan pagi dengan malas aku terus menguman, kenapa harus diantar biasana juga bawa sendiri.

***
Hidupku rasanya panas, gila setiap hari harus latihan minimal 1jam diatas alat musik ini. Dan hari minggu harus ke Bandung untuk latihan gabungan bersama anak-anak yang lain. Seminggu lagi aku harus menghadapi anak- anak dari daerah lain setelah aku menang tingkat Jakarta bulan lalu. Sesampainya di Bandung aku langsung masuk ruang musik yang sudah menjadi tempat kedua dari rumahku, rasa letih masih menderaku setelah satu jam setengah diperjalanan.
“ masih stgh jam lagi latihan dimulai, aku bisa istirahat dulu.”
“ hai fe, kamu begitu letih sekali apakah Jakarta macet lagi hari ini”
“ aduh sir, bukan macet lagi. Tahu sendiri lah Jakarta gimana” aku mengeluh ketika sir deni datang menyapanya. Inilah guru musik ku bernama Deni setiawan lulusan sekolah musik terkenal di London. Beruntung sih dapat guru musik sebaik sir deni, orangnya tidak terlalu memaksa muridnya untuk fokus tapi juga nggak boleh maen – maen tentunya, umurnya cuma beda 5 tahun dengannya dan dia masih muda karena belum menikah. Dia bagaikan kakak yang selalu mengerti apa mau aku.
“seandainya aja kakak ada disini,”
“kamu kenapa fe, ada masalah.”
“ tidak sir, Cuma lagi kangen kakak aja”
“ bukannya minggu depan dia pulang seperti yg kamu bilang kemarin”
“ ya sih sir, tapi dia nggak janji buat lihat perlombaan aku nanti “
“ya udah kita lihat saja nanti, pasti dia datang. Dia kan sayank banget sama kamu “ sebari mengusap-ngusap rambutku.
“ aduh sir, berantakan donk rambut fe “
sir Deni menganggapi dengan gelak tawa melihat aku yang sibuk dengan rambutku.
“fe udah waktuna kita latihan,”
“ ok sir” aku dan sir Deni pun beranjak dari bangku malas kami, (istilah aku dan sir Deni saat kami duduk dipojokan ruang musik).
Alunan nada- nada dari dentingan piano, disambut gesekan biola yang merdu membuat semua orang yang berada diruangan musik itu ikut terbawa, damai merasuk jiwa seakan melayang. Aku terus memainkan beberapa not- not cantik dengan kelihayan jari- jemariku. Ini lah yg ku lakukan tiap akhir pekan menghabiskan waktu libur dengan berlatih music, aku tak pernah dapatkan masalah saat disekolah. Bagi aku sekolah tetep nomor satu yg harus dijalani, sebelum latihan musik malamnya aku sudah menyelesaikan tugas-tugas sekolahku. 2 jam telah berlalu latihan pun usai, aku putuskan masih tetap di Bandung karena suasana yg menenangkan hati.
“ fe, jadi kan kamu ikut sir. Nanti sir aja yg ngantar kamun pulang”
“ tapi sir, supir fe udah nunggu didepan, “
“ fe ini kan udah waktunya makan siang, lagian kamu tidak ada kegiatan sore kan??”
“ ya sih sir, ya udah fe bilang sama supir dulu biar dia pulang duluan” aku pun beranjak keluar untuk member tahu pak mawan untuk pulang, setelah itu aku pun pergi ke tempat yg sir Deni janjikan.
“sir, kenapa sih sir nggak pernah bawa wanita , sir nggak suka sama wanita ya??”
“ enak aja, saya normal ya! Saya belum tertarik aja untuk menjalin hubungan. Kalau saya tidak suka wanita kenapa saya mau ajak kamu, kenapa nggak ajak Andrew yg ganteng dikelas kita”
“ ya juga sih, tapi sir? Apa sir nggak capek bolak balik Jakarta-Bandung untuk mengajar disana?”
“ sepertinya saya tidak perlu menjawab pertanyaan kamu karena kamu sudah tahu jawabannya”
“hemnnzz” aku mulai diam dan menyandarkan tubuh dijok mobil, aku dan sir memiliki hoby yang sama, sehingga aku dan dia selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu diakhir pekan. Aku dan sir Deni biasanya lupa waktu dan terkadang harus pulang malam.
“ fe , seminggu lagi aku akan menghadapi sosok para pianis remaja dari daerah lain,kamu siap kan akan menjadi apa nantinya?”
“ siap sir, fe tidak terlalu berambisi untuk menang, bagi fe musik yang dulu fe kira tidak menyenangkan ternyta sudah menjadi bagian dari hidup fe, fe cuma bisa berusaha dan berdoa yg terbaik buat fe.”
“ bagus fe, saya bangga sama kamu! Ya udah met malam fe, met ketemu hari rabu nanti”
“thank sir, udah ngantarin fe pulang. Kabarin fe kalau sir udah sampai rumah”
“ ok Fe, bye” aku pun melambaikan tangan ketika sir Deni meninggalkan perkarangan rumahku, ketiak aku berbalik ingin masuk rumah ku lihat mama dan papa sudah berdiri depan pintu rumah.
“ ya ampun Fe, jam segini baru pulang”
“ maaf ma , pa! kami lupa waktu, tapi tenang tugas besok udah fe kerjain kok”
“ bagus kalau gitu, sekarang kamu masuk, mandi dan istirahat. Apa kamu sudah makan??”
“ sudah pa, tadi fed an sir Deni makan dulu sebelum pulang”  aku pun beranjak meninggalkan mama dan papa menuju kekamarku. Setelah aku mandi dan ingin langsung istirahat aku melihat ada pesan diponselku, ternyata dari sir Deni.

from : sir Deni
Fe, sy dh sdh sampe dg slmt.
kamu istiraht y! ingt kmu bsok skul.
met mlm peri kecilku,
have a nice dream…….

aku tersenyum menbaca pesab singkat itu, dan ku tutup ponselku. Aku melirik kedepan computer dan bertanya –tanya apakah ada massage dari kak ilham. “dari pada penasaran mending buka aja deh” aku pun beranjak menghidupkan komputerku dan masuk ke yahoo. Terdapat  dua massage yang pertama dari Kumbang hijau dan yg kedua dari kak ilham. Massage dari kak ilham aku buka pertama kali.

From   : kakak Ilham
to         : Ferina Natasya Darma
cc         :
subyek             :
 hai sayank, kakak rindu banget sama adik kakak nc!! Apa kamu baik-baik saja, gimana persiapan lomba kamu. Kakak akan pulang keJakarta hari selasa malam dan sampai keJakarta Rabu pagi. Tunggu kedatangan kakak ya. Kakak ingin kamu yg menjemput kakak! Kakak sudah beri kabar ke mama dan papa tadi siang lewat telepon rumah, sebenarnya kakak ingin bicara sama kamu tapi kata mama kamu masih berada diBandung. Jaga diri baik-baik ya sayang, selamat malam buat adik kecilku! Mimpi yang indah ya!!
I miss u sister!!

aku terdiam, tapi setelah itu aku merasa senang karena kedatangan kakakku dipercepat. Aku pun langsung membuka pesan dari sir Deni.

From   : Sir Deni
to         : Ferina Natasya Darma
cc         :
subyek             :
hari ini kamu menunjukkan kemajuan yg pesat,gook luck bwt minggu depan. ok fe jangan tidur terlalu larut.
met malam peri kecilku.   
Tertegun ketika aku membaca pesan dari sir Deni, tapi aku segera membalas pesan kak Ilham.

From   : Ferina Natasya Darma
to         : kakak Ilham
cc         :
subyek             :
Fe juga kangen bgt sama kakak.
thx kakak udah mau pulang cepat ke Indonesia demi adik kakak ini,
Fe tunggu kedatangan kakak.

setelah mengetik kata demi kata aku klik tombol send, dan aku pun beranjak tidur tanpa membalas pesan dari sir Deni.
***
 Hari ini adalah hari Rabu hampir saja aku melupakannya.” Ya ampun aku kesiangan”
sebelum kesekolah aku akan kebandara untuk menjemput kakakku, rasanya senang banget. Tapi teriakan mama membuatku terbangun dari lamunan panjang yg ku buat pagi ini.”mama, ada apa sich kok teriak histeris gitu”. Aku pun bergegas turun menuju suara mama.
“ma ada apa sih kok teriak-teriak segala”
aku tambah terkejut ketika melihat mama dipeluk papa dalam keadaan menangis,dan ketika itu juga aku mendengar berita yg ditayangkan ditelevisi. Aku terduduk lemas dilantai “kakak”

***
aku terbangun dari mimpi buruk yg membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Ketika ku bangun aku sudah berada diatas sofa dan dikelilingi oleh mama, papa  dan sir Deni. “ kakak” ucapku lagi.
ku lihat mama masih menangis. “ma, kak Ilham mana?”
“sayank” mama memelukku dan aku pun menangis.
“nggak mungkin kan? Kak Ilham udah janji pulang”
“ iya sayank tapi kakakmu sudah tidak ada, tidak ada yg selamat dalam kecelakaan itu”
“ apa mama dan papa yakin pesawat itu yg membawa kakak??”
“ sabar Fe,”
“ sir, kakak masih ada kan?. Dia bakal nonton aku dipanggung kan??”
semua diam, semua menangis. Mataku lebam karena trus menangis, aku piker pesan tadi malam bukan lah pesan terakhir. Aku tak percaya orang yg begitu aku sayank kini pergi meninggalkan aku.

***
Aku mengurung diri ketika semua orang sibuk dengan kepulangan jazad kak Ilham, aku hanya diam ketika ada suara memanggilku.” Adik kakak kok sedih sih” aku tertegun ketika seorang laki-laki berbaju putih berdiri didepanku.” Kak Ilham, kakak pulang”
“ya sayank kakak pulang”
“ mereka bilang kakak pergi “
“ kakak akan selalu disini bersama kamu, kakak gak akan pergi”
“ kak, kakak janji ya. Fe sayank banget sama kakak”
“ ya sayank “
tapi begitu cepat bayangan yg memelukku pergi, ketika ku dengar suara Sir Deni membuka pintu.
“ kakaaaaaaak”
“ Fe… ada ap?”
“ sir, kakak tadi disini”
“ Fe, Ilham sudah tidak ada. Kamu sabar ya”
“ sir bohong, tadi kakak ada disini” ku lihat sir Deni memelukku dan dia menangis.
“ saya tahu kamu sangat menyayangi Ilham, tapi kamu harus iklhas agar Ilham bisa tenang disana. Fe kamu tahu Ilham akan selalu disini” sir Deni menunjuk dadaku.
aku tetap diam dan aku pun berpikir, “ya kakak akan selalu dihati Fe”
“ ayo kita turun, kamu harus melihat jazad kakakmu”
sir Deni menuntunku keluar dari kamarku dan aku melihat sosok yg ditutupi kain putih dengan wajah pucat pasi, lebam dimana-mana.
aku terduduk disamping jazad kak Ilham, ku peluk seakan tak ingin melepasnya.

***
6 hari sudah aku merasa sendiri, aku tak pernah latihan. Aku hanya pergi sekolah hanya untuk absen. Tapi pikiranku ntah kemana. Kalian tahu aku tak ingin rasakan ini setiap hari tapi aku tak mampu. Aku tetap menyendiri dari semua orang bahkan ketika perlombaan itu tiba. Aku dengar guru-guru sedang sibuk menggantiku dengan yg lain, tapi sir Deni tidak setuju. Ketika aku melewati ruang guru tak sengaja ku dengan percakapan sir deni dan miss intan.
“ miss apa keputusan ada tidak salah”
“ menurut saya tidak”
“ tapi Fe yg menang,  dia sudah berlatih. Dia itu masih bisa mengikuti lomba besok”
“ sir tidak lihat bagaimana dia disekolah, dia tidak pernah belajar lagi, untuk apa kita mempertahankan anak yang tidak mau serius.”
begitulah percakapan mereka, aku meneteskan air mata dan berlari kebelakang sekolah. Aku tak ingin semua ini lagi. Kalian tahu tak ada lagi satu orang pun yang mau mengerti perasaanku. Mereka hanya inginkan aku ikut lomba dan memenangkannya.
“ kamu tahu Fe semua orang menyikirkan orang yg lemah dan ingin berjuang” aku menoleh ketika ada suara yg menyeruak dibelakangku, ternyata Rama. Aku tetap menangis dan Rama duduk disampingku.
“ Fe kamu tahu kan kak Ilham itu teman main aku, dia itu tidak suka lihat adik kecilnya menangis seperti ini, sir Deni teman kakakmu dia tahu apa yg harus dia lakukan. Kamu hebat Fe bisa seperti kak Ilham.” Aku berhenti menangis, aku lihat Rama berbicara tanpa melihatku. Dia hanya menatap langit seakan ada Sesutu disana.
“aku … aku…”
“ Fe, kamu ingat ketika kamu terpilih dan menjadi juara. Semua orang iri melihatmu, mereka ingin sepertimu termasuk aku.”
“ kenapa semua orang hanya ingin aku menang tanpa tahu perasaan kehilanganku”
“ kamu salah Fe” ku lihat Sir Deni telah berdiri diujung jalan setapak didepanku.
“ sir Deni”
“tidak semua orang Fe, saya sangat ingin kamu bisa wujudkan apa yg menjadi keinginanmu!”
“ betul apa kata sir Deni”
“besok adalah perlombaanmu, saya dan Rama tidak ingin kamu digantikan orang lain”
“ iya Fe kami juga tidak mau seorang pun menggantikan mu” aku mendengar suara Rara, ku lihat anak-anak lain telah berdiri dibelakang.
“ makasih semua, tapi apa aku bisa lakukan ini semua”.
rama berkata dengan menepuk pundakku.
“ kamu tidak sendiri Fe, aku dan teman-teman akan selalu ada disampingmu”
“ iya kami semua” semuanya berseru. Kalian tahu ternyata aku tidak sendiri, tapi aku lah yg berusaha menyendiri.

***
Pagi ini ku sambut dengan senyuman, mama papa telah menantiku dimobil. Mereka ingin mengantarkanku ke gedung seni tempatku melakukan lomba. Sesampainya disana ternyata mereka telah menantiku.
“ giman Fe, kamu siap”
“ siap sir”
“ ok , kita masuk sekarang kebetulan kamu sudah ditunggu sama yang lain”
“ baik sir”
“ untuk om dan tante, mari saya antarkan ketempat duduk”
“ terimakasih, nak Deni”

tiba giliranku, dengan perlahan nait keatas panggung. Dan berdiri didepan semua hadirin dan juri .
“ aku berdiri bukan ingin piala yg berdiri disana, tapi aku ingin menghadiahkan ini untuk kalian semua dan untuk kakakku tercinta”
aku pun mulai memainkan not demi not dengan jari jemariku, ketika ku lihat ada bayangan kakak tersenyum dan menghilang.
kini bukan kemenangan tapi keikhlasan, kakak hanya ingin aku menjadi anak yang kuat dan tidak manja. Kini aku buktikan pada dunia, aku adalaha aku yg duduk disini. Bermaik music dengan alunan laku yg terus mengalir. Takkan ada yang mampu menghentikan aku kecuali aku sendiri. Ku dengar tepuk tangan juri, dan hadirin. Mereka senang mendengarkan musikku.
“kakak ini untukmu, aku sangat menyayangimu.” Bisikku dalam hati sambil trus tersenyum.

setelah semua peserta memainkan keahlian mereka, tiba pengumuman pemenangnya. Aku tetap duduk tenang. Dan tetap diam ketika aku dinyatakan pemenangnya.
“sayank kamu menang”
“ iya ma” aku pun beranjak menuju panggung. Tapi aku dihentika oleh pelukan hangat, seperti kakak tapi yg ku lihat adalah si Deni.
“ selamat Fe”
“ makasih sir, ini semua berkat sir juga” ku tinggalkan sir Deni dan berdiri dipanggung menerima piala kemenangan.
“saya persembahkan piala ini untuk seluruh orang yg sudah setia disamping saya.”


aku membuka pintu kamar kak Ilham, ku letakkan piala kemenangan diatas mejanya bersama piala yg lain.” Kak hari ini Fe menang, piala ini untuk kakak”. Setelah meletakkanya dan melihat-lihat kamar  ini sejenak aku pun beranjak pergi keruang tamu dimana semua orang sedang merayakan kemenangan ku.
aku tahu apa yang ku lihat nyata, semua orang tertawa. Aku langsung ikut diantara mereka. Sekali lahi aku tegaskan kematian bukan akhir segalanya. Walaupun jazad kakak tak ada dihadapanku saat ini ikut meriahkan kemenanganku, tapi aku merasakannya. Kakak ada disini, tersenyum senang dan ikut gembira melihat kemenanganku.
  

Tidak ada komentar: